Pages

Jumat, 21 Maret 2014

‘tuhan’ Bob Marley cinta Indonesia

HANYA sebuah kran air. Benda sepele yang membuat seorang kaisar Raja Tak Bertara terhentak hatinya. Dia tentu tak marah. Juga tidak gusar dengan benda itu. Entah bagaimana telinga sang kaisar yang dijuluki Sang Negus (negus berarti raja dalam bahasa Amharik, bahasa setempat) bisa mendengar kisah kran air itu.
Ia memang berkuasa mutlak nyaris tanpa batas. Hampir setengah abad dia duduk di tahta yang turun menurun dari masa Nabi Sulaiman. Ia juga penentu semua kehidupan di negerinya yang miskin di benua hitam. Dia mengangkat menteri, panglima perang, gubernur, hakim, manajer hotel sampai kepala kantor pos. Hal-hal kecil tak boleh luput dari perhatiannya. Termasuk kran air itu.
Ada kisah kecil yang nyaris terlupakan semasa sang kaisar berkuasa.  Di sebuah resepsi penuh basa basi diplomatik, sang kaisar tertegun sejenak ketika menyalami para diplomat yang datang. Kali ini tak ada basa-basi. Sang kaisar yang bertubuh pendek itu bercengkrama sejenak, ketika dia menyalami tamu diplomat dari Indonesia.
Dari mulutnya yang dilingkari kumis dan brewok itu, sang kaisar bermata tajam menatap tamunya dari Indonesia. Dia menyampaikan perasaan hatinya yang dalam tentang kran air. Sebuah ungkapan terima kasihnya tak terhingga kepada Indonesia. Bukan karena bantuan finansial atau proyek kerjasama, karena memang tidak ada muatan sebesar ini dalam hubungan kedua negara saat itu. Tapi karena kran air!
Sang kaisar terkesan dengan kedutaan besar Indonesia di ibukota negeranya, yang membiarkan kran air milik kedutaan mengucurkan air. Air itulah yang dimanfaatkan banyak oleh penduduk yang membutuhkan saat kesulitan. Tindakan itu terdengar sampai ke telinga sang kaisar yang pernah menjadi ‘Man of the Year 1936’ majalah TIME. Baginya pantas untuk mengucapkan terima kasih untuk sebuah kran air kepada Indonesia.
Rasa terima kasih sang kaisar memang bukan basa-basi lagi. Sebelumnya dia sudah lama terkesima dengan retorika Indonesia dimasa Soekarno, yang anti penjajahan dan membela rakyat negeri tertindas di setiap sudut dunia, termasuk benua hitam tempat negaranya dihormati. Dia tak iri dengan Soekarno karena kota Bandung menjadi ‘ibukota Afrika (juga Asia)’, tempat berkumpulnya pemimpin Afrika (juga Asia) pertama kalinya dalam sejarah di tahun 1955. Justru bukan seharusnya di ibukota negerinya! Dia memang tak datang ke Bandung waktu itu.
Namun kedudukannya sebagai sang kaisar, tak sebatas negaranya. Status dan kehormatannya, merebak melintas batas negerinya. Dia dianggap sebagian orang kulit hitam sebagai reinkarnasi Yesus Kristus. Sebuah kepercayaan kristiani yang berlainan dari umumnya, yang menamakan diri mereka sebagai rastafari. Sebuah nama aliran yang diambil dari nama kecil sang kaisar ketika belum bertahta: Ras Tafari. Ras dalam bahasa lokal berarti raja.
Meski dia tak sepenuhnya berhasil mensejahterakan rakyatnya, dia mengilhami jutaan orang kulit hitam akan kebanggaan genetis dan kehormatan kemanusiaan. Penganut rastafari memujanya bagai tuhan. Penyembahan itu (meski dia tak menginginkannya) merebak luas ketika seorang penyanyi reggae asal Jamaika, Bob Marley mempopulerkan rastafari sebagai identitas kepercayaan. Bagi Bob, sang kaisar adalah ‘god living’, yang ia selalu bawa fotonya di setiap konser musiknya.
Bob juga memakai warna bendera negeri sang kaisar, yaitu merah, kuning dan hijau sebagai identitas visual yang mendunia. Hingga kini puluhan negara benua hitam memakai tiga warna rastafari sebagai bendera mereka. Dan ibukota negara sang kaisar diberi kehormatan menjadi markas besar abadi organisasi Uni Afrika.
Di bulan Mei ini, tepatnya hari ke 11, kaum rastafari mengenang 30 tahun kepergian sang penyanyi dan pencetus musik reggae. Di bulan Mei ini juga, sang kaisar pernah bertandang ke Indonesia selama seminggu, dari tanggal 7 hingga 13 Mei 1968. Dia datang ke sini untuk mewujudkan rasa  hormatnya kepada Indonesia, sebuah negeri nan jauh dan serba asing bagi rakyatnya. Namun tidak semua orang di Indonesia menyukainya, meski sang kaisar bersikap sebaliknya. “Dia banyak menindas kaum muslim di negerinya”, alasan sekumpulan organisasi mahasiswa, pemuda dan pelajar yang menolak kedatangannya ke Indonesia.
“Ethiopia secara obyektif mempunyai pandangan positif terhadap Indonesia, terutama setelah kemenangan Orde Baru”, tegas Presiden Soeharto di depan 19 ormas kepemudaan di Istana Merdeka, untuk membela keputusannya mengundang kaisar Ethiopia itu ke Indonesia beberapa hari sebelum sang kaisar datang. Akhirnya sang kaisar datang dan membawa seekor kuda Ethiopia untuk Soeharto.
Sebelumnya sang kaisar pernah bertemu dan bersahabat baik dengan Presiden Soekarno ketika mereka menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Non Blok pertama di Beograd, ibukota Yugoslavia tahun 1961. Bahkan Soekarno menganugrahkan Bintang Republik Indonesia kelas satu kepada sang kaisar tahun 1958.
Masa-masa itu, Indonesia dipandang hormat oleh semua negara Afrika sebagai pembela kemerdekaan mereka. Puluhan negara Afrika bertahap ramai-ramai merdeka usai konferensi Asia Afrika di Bandung. Bagi sang kaisar yang secara tak resmi dipandang “raja Afrika”, peranan Indonesia ini tak bisa diabaikan. Dia pun harus datang ke Indonesia. Bahkan ketika Presiden Soeharto memulai debutnya ke luar negeri menghadiri KTT Non Blok III di Lusaka pada September 1970, Soeharto bertemu kembali dengan mendatangi penginapan sang kaisar di ibukota Zambia itu.
Kini Bob Marley, sang kaisar dan Soekarno serta Soeharto semua sudah tiada. Mereka bagaikan jalinan cinta segitiga. Bob menuhankan sang kaisar melalui musik reggaenya. Sang kaisar mencintai Indonesia karena Soekarno dan Soeharto. Dan banyak orang Indonesia mencintai Bob Marley karena musik reggae. Mereka semua punya satu kesamaan: membebaskan, membanggakan dan menyatukan Dunia Ketiga, dunia keterbelakang. Seperti syair dari lagu Bob Marley yang terkenal, ‘One Love’:
One love, one heart
Let’s get together and feel all right
Hear the children crying (One love)
Hear the children crying (One heart)




Ada sedikit noda melekat dalam mosaik hubungan Indonesia dengan negeri sang kaisar, Ethiopia yang pernah dilanda kemarau kelaparan berkepanjangan sepanjang 1984 dan 1985. Segelintir orang di Indonesia membajak lagu-lagu konser global ‘Live Aid’ 1985 yang dimotori penyanyi Bob Geldoff untuk menolog korban kelaparan di Ethiopia. Dosa ini membuat nama buruk Indonesia di mata dunia, khususnya Dunia Ketiga yang justru banyak dibela Indonesia.
Negara-negara berkembang atau Dunia Ketiga kini bangga pernah memiliki Bob yang menduniakan musik reggae sebagai satu-satunya musik asal Dunia Ketiga. Indonesia dikenang oleh negara-negara berkembang sebagai pelopor pembebas bangsa-bangsa keterbelakang (PBB menamakan anugrah kependudukan dengan nama ‘Soeharto Award’) dan sang kaisar tentunya dipuja banyak negeri hitam terkebelakang sebagai inspirasi rohani kebebasan.
Bagi banyak rakyat, sang kaisar tak sekedar pemimpin duniawi. Dia jelmaan Kristus yang pantas disebut sebagai ‘Hail to Trinity’. Rakyat Ethiopia, negeri sang kaisar, menyebutnya dalam bahasa lokal Amharik, bahasa yang banyak digunakan di Ethiopa sebagai Haile Selassie. Nama resmi sang kaisar. Haile bermakna pemujaan (hail) dan Selassie berarti tritunggal atau trinitas (trinity).
Bangsa Arab yang bertetangga sebelahan dengan bangsa penutur bahasa Amharik itu, menyebut tritunggal dengan kata ‘saluusa’, yang bisa kita kenal dari nama hari ketiga dalam seminggu, ‘salasa’, yang diambil dari bahasa Arab. Gelar keagamaan penuh pemujaan juga melekat panjang pada tambahan namanya Kaisar Haile Selassie I. hingga sering namanya cukup disingkat dengan HS, ‘tuhan’ Bob Marley. (*)


0 komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About