Pages

Kamis, 20 Maret 2014

BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI JASA-JASA PAHLAWANNYA


Bung Karno, terlahir dengan nama Kusno Sosrodihardjo (6 Juni 1901 - 21 Juni 1970) adalah anak dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo, seorang guru asal Jawa, dengan Ida Ayu Nyoman Rai asal Buleleng, Bali.



Nama = KUSNO SOSRODIHARDJO
Unsur Aksara Jawa:
Aksara depan=Ka
Aksara belakang=Ja
Lahir = Kamis Pon, 6 Juni 1901
7 Sapar 1831 Tahun DAL Windu SANCAYA
18 Safar 1319H
Neptu = 15
Wuku = WAYANG
Pangarasan= Lakuning Srengenge
Pancasuda = Satria Wirang
Dina= Dina Hulung
Lintang 12= Lintang Kur (Jun)
Pranotomongso= SODHO ( 13 Mei - 22 Juni )
Bintang = GEMINI ( 22 Mei - 21 Juni )


Bung Karno sebagai Presiden RI pertama merupakan “bintang” yang bersinar diantara para pemimpin negara-negara besar pada saat itu.  Beliau merupakan salah satu tokoh besar yang mewujudkan cita-cita mempersatukan Indonesia yang terdiri dari beragam budaya, bahasa, suku dan agama.
Cita-cita beliau tertuang dengan konsep negara Nasionalis, Agama dan Komunis (Nasakom) yang mengayomi semua golongan dalam payung NKRI. Semua bersatu dalam satu jati diri, Indonesia. Beliau mengerti apa yang diperlukan dalam keberagaman Indonesia. Tentunya dalam cita-cita Bung Karno “keberagaman” bukanlah ancaman tetapi suatu kekuatan yang seharusnya dipelihara anak-cucu bangsa Indonesia. Bung Karno dengan kharismanya mewakili bangsa Indonesia dalam kancah politik dunia. Mungkin para tokoh dunia juga mengagumi cita-cita beliau untuk bangsa yang besar dan beragam ini. Setiap orang bisa mempunyai impian menjadi orang terkenal, tetapi tidak banyak orang yang bisa mewujudkan impiannya sebagai warisan bangsa.
Mari kita kilas balik kiprah Bung Karno diantara para pemimpin bangsa, bukti kebesaran cita-cita beliau yang diakui dunia.
Bung Karno dengan kharismanya mewakili bangsa Indonesia dalam kancah politik dunia. Mungkin para tokoh dunia juga mengagumi cita-cita beliau untuk bangsa yang besar dan beragam ini. Setiap orang bisa mempunyai impian menjadi orang terkenal, tetapi tidak banyak orang yang bisa mewujudkan impiannya sebagai warisan bangsa.
  • Mari kita kilas balik kiprah Bung Karno diantara para pemimpin bangsa, bukti kebesaran cita-cita beliau yang diakui dunia.
Washington DC, 16 Mei 1956. Presiden Soekarno memeriksa pasukan kehormatan ditemani oleh Wakil Presiden Richard Nixon, dalam kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat. Penghormatan diberikan dengan 21 kali tembakan yang merupakan penghormatan tertinggi secara militer.



Washington DC, 19 Mei 1956. Presiden Soekarno disambut oleh Presiden Amerika, Dwight D. Eisenhower, dalam kunjungan ke Amerika Serikat


Washington DC, 19 Mei 1956. Presiden Soekarno disambut oleh Presiden Amerika, Dwight D. Eisenhower, dalam kunjungan ke Amerika Serikat. Dalam foto terlihat Bung Karno berbicara dengan Mrs. Eisenhower dalam perjamuan kenegaraan.


Havana, 5 September 1960. Presiden Soekarno bertemu dengan Osvaldo Dorticos, Presiden Cuba, dan Fidel Castro, Perdana Menteri Cuba.  Cuba pada saat itu terkenal karena memihak Uni Soviet dalam persaingan dengan Amerika Serikat. Letaknya yang sangat dekat dengan AS membuat pemerintah AS gerah dan mempersiapkan invasi, terutama karena Uni Soviet menempatkan rudal jarak jauh di Cuba dan mengarah ke kota-kota besar di AS.


Beverly Hills, Juni 1956. Presiden Soekarno bertemu dengan bintang film Holywood terkenal saat itu, Merilyn Monroe, dalam suatu pesta. Bung Karno memang selalu “dikelilingi” wanita-wanita cantik.



Peiping, RRC, 24 November 1956. Presiden Soekarno bertemu dengan Chairman Ma Tze Dong dalam jamuan makan malam yang digelar untuk menghormati Bung Karno. Presiden RI dikenal dekat dengan para pemimpin negara komunis, dan membuat gerah negara-negara kapitalis


Sungai Nil, Mesir, 6 Juli 1965. Presiden Soekarno duduk disebelah PM RRC Chou En Lai dalam sebuah kapal yang berlayar di Sungai Nil, Mesir. Kunjungan Bung Karno ke Mesir dalam rangka Konferensi Asia Afrika yang sedianya akan diadakan di Algeria, tetapi dibatalkan. Kedekatan Bung Karno dengan komunis tidak dapat dipungkiri pada saat itu dan membuat negara-negara kapitalis semakin tidak tenang. Tentunya manuver politik Bung Karno yang tidak memihak negara-negara kapitalis, tetapi memiliki corak tersendiri semakin menambah kecemasan para kapitalis.


Pangkalan Udara Andres, AS, 24 April 1961. Presiden Soekarno dalam limousin kenegaraan bersama Presiden Kennedy. Saat itu sedang terjadi ketegangan antara Cuba dan AS, karena penempatan rudal jarak jauh oleh Uni Soviet di Cuba yang mengancam AS. Bung Karno berkunjung ke AS sebagai penengah ketegangan.


Tokyo, 3 Februari 1958. Presiden Soekarno bertemu dengan Kaisar Jepang Hirohito, terlihat disebelah kanan Pangeran (saat itu) Akihito yang masih muda. Momen tersebut adalah jamuan makan siang dari Kaisar Hirohito kepada Presiden RI. Pengakuan penuh dari ex-penjajah kepada kemerdekaan ex-jajahannya.



New York, 6 Oktober 1960. Presiden Soekarno berjumpa dengan PM Uni Soviet, Nikita Khrushchev lalu memberikan keterangan kepada wartawan setelah pertemuan selama 40 menit . Lokasi di depan kantor perwakilan Uni Soviet untuk PBB.



Blitar,  Jawa Timur, 22 Juni 1970. Upacara pemakaman Presiden ke-1 RI di pemakaman keluarga di Blitar. Bung Karno meninggal pada 21 Juni 1970, pada usia 69 tahun.

Bung Karno telah pergi dan berlalu, tetapi cita-cita dan karyanya beserta bangsa Indonesia selama ini. Banyak momen penting dan kesulitan telah dilalui NKRI dan cita-cita Bung Karno tidak lekang oleh panas terik dan tidak luntur diguyur hujan badai. Bung Karno telah pergi ke pangkuan Tuhan YME, tetapi cita-citanya menjadi warisan milik bangsa Indonesia. Jangan biarkan cita-cita Bung Karno “mati” oleh ulah segelintir orang yang tidak mengenal kebesaran bangsa Indonesia dan tidak mengerti akan keluhuran cita-cita para pendiri Republik ini.


Jika melihat kilas balik perjalanan Bung Karno sebagai salah satu bapak bangsa Indonesia, apalah arti jargon-jargon sektarian segelintir orang yang gemar memelintir agama dan kepentingan golongan untuk memuaskan rasa haus akan kekuasaan. Apalah arti semboyan-semboyan “perjuangan kebenaran” jika hasilnya hanya mengkhianati cita-cita para bapak bangsa Indonesia. Apakah Indonesia akan menjadi bangsa yang besar jika hanya menjadi pemuas nafsu segelintir orang atas nama agama atau partai ?
Bung Karno telah pergi, tetapi jangan biarkan cita-citanya pergi juga !


0 komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About